BELI BAJU ONLINE...SINI AJA

Rabu, 23 Februari 2011

INDIKASI PINJAMAN LUAR NEGERI INDONESIA 2010-2014

Indikasi pinjaman luar negeri Indonesia 2010-2014 ditetapkan dalam Perpres No. 7 Tahun 2011 pasal 4 untuk proyek baru, ditetapkan dalam persentase terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebagai berikut:
a. tahun 2010 sebesar 0,56 0,68 persen;
b. tahun 2011 sebesar 0,56 - 0,69 persen;
c. tahun 2012 sebesar 0,49 - 0,60 persen;
d. tahun 2013 sebesar 0,41 - 0,50 persen;
e. tahun 2014 sebesar 0,36 - 0,44 persen.

Selasa, 22 Februari 2011

CADANGAN DEVISA INDONESIA NAIK

Cadangan Devisa yaitu stok emas dan mata uang asing yang dimiliki yang sewaktu-waku digunakan untuk transaksi atau pembayaran internasional (Nilawati,2000:162).
Pengertian Cadangan Devisa atau Foreign Reserve Currencies adalah mata uang asing, misalnya dolar Amerika yang dipegang oleh pemerintah atau bank sentral setiap negara yang pada umumnya digunakan sebagai cadangan internasional (Lipsey, 1990: 499).
Posisi cadangan devisa suatu negara biasanya dinyatakan aman apabila mencukupi kebutuhan impor untuk jangka waktu setidak-tidaknya tiga bulan. Jika cadangan devisa yang dimiliki tidak mencukupi kebutuhan untuk tiga bulan impor, maka hal itu dianggap rawan. Tipisnya persediaan valuta asing suatu negara dapat menimbulkan kesulitan ekonomi bagi negara yang bersangkutan.
Bukan saja negara tersebut akan kesulitan mengimpor barang-barang yang dibutuhkannya dari luar negeri, tetapi juga memerosotkan kredibilitas mata uangnya. Kurs mata uangnya di pasar valuta asing akan mengalami depresiasi. Apabila posisi cadangan devisa itu terus menipis dan semakin menipis, maka dapat terjadi rush terhadap valuta asing di dalam negeri. Apabila telah demikian keadaannya, sering terjadi pemerintah negara yang bersangkutan akhirnya terpaksa melakukan devaluasi (Dumairy, 1996: 107).
Makin menipisnya cadangan devisa juga merupakan salah satu penyebab tingginya tingkat kerentanan ekonomi Indonesia yaitu makin memperburuk kondisi perekonomian nasional. Tahun 1998 cadangan devisa Indonesia mencapai 23,90 triliun rupiah, akan tetapi akibat krisis ekonomi jumlah tersebut merosot, hingga bulan September 1999 berkisar 16,01 milyar dollar AS (Tulus T.H. Tambunan,2000:152-153).
Menurut Arief (1999:4), dijelaskan bahwa ketergantungan impor dan transfer neto yang tinggi membahayakan neraca pembayaran yakni defisit transaksi berjalan dan defisit modal yang terus menerus meningkat. Akibatnya cadangan devisa menjadi semu, artinya banyak mengandung dan bahkan didominasi oleh komponen utang luar negeri. Cadangan devisa tidak lagi diperoleh dari surplus ekspor, tetapi dari pinjaman luar negeri. Sebagian besar pinjaman luar negeri digunakan untuk menutup defisit transaksi berjalan dan membayar angsuran pokok utang luar negeri (Tulus T.H. Tambunan,2000:152-153)

Jadi kondisi jumlah cadangan devisa Indonesia sangat perlu untuk ditingkatkan agar tingkat kerentanan ekonomi Indonesia dapat dikurangi. Salah satu cara untuk menaikkan jumlah cadangan devisa adalah dengan menggenjot ekspor dan mengurangi impor serta utang luar negeri. Dalam usaha mengurangi ketergantungan pada impor, diperlukan suatu strategi yang efektif guna menaikkan tingkat kemandirian semua sektor ekonomi pada umumnya dan sektor industri manufaktur pada khususnya.
Menurut M. Nosihin (1983), dikatakan bahwa penerimaan yang diterima pemerintah dalam bentuk valuta asing yang kemudian ditukarkan dengan rupiah, maka dalam proses pertukaran ini, akan meningkatkan cadangan aktiva Bank Indonesia dan jumlah uang beredar bertambah dengan jumlah uang yang sama. Jadi antara cadangan devisa dan jumlah uang beredar hubungannya cukup erat, dimana jumlah cadangan devisa yang ditukarkan menambah jumlah uang beredar dalam jumlah yang sama (Nilawati, 2000:161).
Menurut Khon, dikatakan bahwa suatu negara kecil dengan sistem perekonomian terbuka yang menggunakan sistem kurs devisa tetap ditentukan Fixed Exchange Rate System, kenaikan pengeluaran masyarakat dapat berarti pula kenaikan pendapatan masyarakat. Kalau kenaikan pengeluaran tersebut mengakibatkan kenaikan impor, hal ini mengakibatkan turunnya cadangan devisa (Nilawati,2000:161)
Kenaikan harga minyak dunia membawa pundi-pundi keuntungan bagi neraca pembayaran Indonesia, sehingga menaikkan cadangan devisa menjadi US$97 miliar setelah pada Januari sempat merosot.

Cadangan Devisa Indonesia
Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi A. Sarwono mengemukakan hingga 22 Februari 2011 cadangan devisa nasional mencapai US$97 miliar. Hal itu berarti naik US$1,7 miliar jika dibandingkan dengan akhir Januari US$95,3 miliar.

“Kenaikan cadangan devisa rata-rata dari hasil [ekspor] minyak karena harga naik," ujarnya, hari ini.

Namun, sambung dia, aliran dana asing juga sudah mulai masuk ke Indonesia setelah pada Januari sempat keluar akibat inflasi dan kondisi global, meskipun tidak sebesar pemasukan dari minyak mentah.

Dia tidak bisa memastikan berapa besar kontribusi penjualan minyak bumi jika dibandingkan capital inflow. Pasalnya tidak seluruh capital inflow masuk dalam sistem bank sentral.

Pada akhir Desember 2010 cadangan devisa RI tercatat US$96,207 miliar. Kemudian sempat turun pada Januari 2011 menjadi US$95,3 miliar dan sampai saat ini meningkat menjadi US$97 miliar.

Sabtu, 19 Februari 2011

EMPAT HAL YANG DIPERHATIKAN OLEH PASAR KEUANGAN

Ada empat hal yang sedang diperhatikan oleh pasar keuangan.
Pertama, adalah meningkatnya inflasi di negara berkembang akibat naiknya harga komoditas pangan dan energi, serta karena gejala overheating ekonomi.

Kedua, adalah akselerasi pemulihan ekonomi di Amerika Serikat dan negara maju lainnya.

Ketiga, adalah situasi krisis fiskal di beberapa negara Eropa terutama di Greece (Yunani), Irlandia, Portugis, Spanyol, dan Italia, yang sering disebut negara GIPSI.

Keempat adalah situasi krisis politik di Mesir dan pengaruhnya terhadap harga minyak. Naiknya inflasi serta bergejolaknya politik di Tunisia dan Mesir telah meningkatkan risiko berinvestasi di negara berkembang.
Reaksi investor adalah mengurangi jumlah portofolio investasi di negara berkembang karena pada 2009 dan 2010 mereka telah menangguk untung besar. Tindakan ini disebut sebagai profit taking atau aksi ambil untung.

Sebaliknya reaksi investor di negara maju adalah mereka lebih agresif membeli saham karena valuasi saham di sana belum terlalu mahal dibandingkan dengan di emerging market.
Contohnya di Indonesia, valuasi saham sudah meningkat dua kali lipat, yaitu dari valuasi 7 kali PER di awal 2009 menjadi 14 kali PER pada akhir 2010.

Jika yang terjadi di pasar keuangan negara berkembang adalah aksi ambil untung maka artinya hal tersebut bersifat sementara.

Investor akan kembali membeli saham dan surat utang emerging market setelah masalah inflasi teratasi dan situasi politik Timur Tengah kembali stabil.

Aliran dana dari negara maju ke negara berkembang masih akan terus berlanjut karena potensi pertumbuhan ekonomi jangka panjang memang lebih bagus di negara berkembang dibandingkan dengan di negara maju.

Menurut riset dari Capital Economics dan Cannacord Genuity, naiknya harga minyak akibat gejolak politik di Mesir bersifat temporer karena Mesir hanya menghasilkan minyak sekitar 740.000 barel per hari atau 0,9% dari produksi global.
Bahkan Terusan Suez hanya dilalui oleh kapal pengangkut 1,8 juta barel minyak per hari, sehingga bukanlah jalur transportasi dominan bagi lalu lintas minyak dunia. Yang harus dipantau adalah apakah gejolak politik di Mesir akan merambat ke negara penghasil minyak dominan seperti Arab Saudi.
Mengatasi inflasi
Jika krisis Mesir bersifat temporer, pertanyaan selanjutnya, apakah masalah inflasi di negara-negara berkembang bisa teratasi? Maka dari itu menjadi penting bagi otoritas di negara berkembang untuk mengatasi inflasi. Tapi jangan salah paham.
Masalah inflasi perlu ditangani bukan karena otoritas moneter tunduk kepada tekanan investor pasar keuangan. Inflasi perlu ditangani karena masyarakat berpenghasilan rendahlah yang menjadi korban inflasi.

Selain itu, jika inflasi tidak diatasi maka biaya dana akan meningkat sehingga merugikan dunia usaha dan meningkatkan pembiayaan surat utang negara (SUN).

Banyak kalangan tidak menyadari bahwa walaupun pada Januari Bank Indonesia tidak menaikkan BI Rate, akan tetapi yield SUN sudah naik dibandingkan dengan Desember. Investor khawatir terhadap inflasi yang telah mencapai 7%. Kenaikan inflasi akan menurunkan `daya beli uang' sehingga investor meminta yield obligasi atau bunga yang lebih tinggi.

Yield atau kupon bunga penerbitan SUN dan obligasi korporasi di Indonesia sudah meningkat 150 bp (1,5%) sejak bulan Januari 2011. Yield SUN berjangka waktu 10 tahun meningkat dari 7,5% pada awal Desember menjadi 9,0% pada akhir Januari 2011. Maka sudah saatnya pembahasan APBN selain membahas asumsi inflasi dan suku bunga SBI juga harus membahas asumsi rata-rata yield SUN karena itulah yang sebenarnya menjadi beban pembiayaan defisit APBN.

Inflasi yang kali ini terjadi bukan saja karena naiknya harga komoditas pangan dan energi, tetapi juga oleh overheating ekonomi. Kenaikan aktivitas ekonomi di negara berkembang tidak mampu dipenuhi oleh sisi supply barang sehingga harga naik.

Gejala overheating digambarkan oleh angka impor barang konsumsi yang terus meningkat, neraca perdagangan yang defisit, valuasi saham yang meningkat di atas nilai fundamentalnya, harga properti yang terus melambung, dan utang yang terus membengkak.

Indonesia belum mencapai kondisi overheating yang mengkhawatirkan karena neraca perdagangan masih surplus sekitar US$2 miliar per bulan dan kredit konsumsi tumbuhnya 22% yaitu tidak lebih tinggi daripada pertumbuhan kredit nasional.

Akan tetapi jika kita lihat dari pertumbuhan impor barang konsumsi yang meningkat 48% pada 2010 dan harga properti di beberapa lokasi yang kenaikannya lebih dari 20% per tahun pada 2008-2010 maka harus diakui bahwa Indonesia sedang mengalami gejala overheating.

Kesimpulannya, pengetatan moneter yang dilakukan oleh BI dalam bentuk kenaikan giro wajib minimum (GWM) ke 8% dan kenaikan BI Rate ke 6,75% adalah suatu hal yang memang harus dilakukan, dan tampaknya belum berhenti di sini.

Inflasi di banyak negara berkembang sejak semester II/2010 sudah menunjukkan tren pemburukan. Di India inflasi Desember mencapai 8,43%.
Bank sentral India sudah menaikkan bunga repo sebanyak tujuh kali sejak Maret tahun lalu men jadi 6,5% pada Januari.
Pengetatan likuiditas di India juga dilakukan dengan meningkatkan rasio GWM dua kali menjadi 6%.

Di Brasil, inflasi tahun lalu mencapai 5,91%, bank sentralnya telah menaikkan bunga beberapa kali sejak April 2010 menjadi 11,25% dan juga menaikkan rasio GWM dari 15% ke 20% pada Desember 2010.

Inflasi di China meningkat ke 5,1%, akibatnya People Bank of China telah menaikkan bunga dua kali di Oktober dan Desember 2010 menjadi 5,81%.
Rasio GWM di China telah dinaikkan tujuh kali sejak 2010 menjadi 19%. Selain ketiga negara di atas, Malaysia, Australia, Thailand, Taiwan, dan Korea Selatan, juga telah mengetatkan kebijakan moneter.

Kita tidak perlu khawatir pengetatan moneter berdampak signifikan kepada pertumbuhan ekonomi karena roda perekonomian Indonesia saat ini sedang mengalami akselerasi.

Sebagai contoh, pada 2007 dan semester I/2008 pada waktu ekonomi juga sedang mengalami akselerasi, pada saat itu suku bunga SBI adalah 7,5% (lebih tinggi daripada sekarang) dan ternyata pertumbuhan kredit tetap bisa mencapai di atas 25% dan pertumbuhan ekonomi sedikit di atas 6%.

Agar inflasi menurun cepat maka pengetatan moneter harus dilengkapi dengan usaha pemerintah pusat dan daerah memfasilitasi peningkatan produksi dan ketersediaan pangan dan energi serta membenahi jalur distribusi.

Pemerintah telah menurunkan bea masuk bahan pangan tetapi pembahasan pembatasan BBM premium masih berlanjut.
Akibatnya ekspektasi inflasi belum turun karena tergantung seberapa besar dampak pembatasan BBM Premium di Jakarta terhadap biaya distribusi barang di Indonesia.

Selasa, 15 Februari 2011

BATAS MAKSIMUM PEMBERIAN KREDIT (BMPK)

BMPK adalah persentase penyediaan dana yang diperkenankan terhadap modal bank. Penyediaan dana adalah penanaman dana Bank dalam bentuk kredit, surat berharga, penempatan, surat berharga  yang dibeli dengan janji untuk dijual kembali, tagihan akseptasi,dll. Modal bank adalah :
a. Modal inti dan modal pelengkap bagi bank yang berkantor pusat di Indonesia.
b. Dana bersih kantor pusat dan kantor cabang-cabang lainnya diluar negeri, bagi kantor cabang bank asing.

1. BMPK BANK UMUM
BMPK terhadap pihak terkait (Pasal 4 PBI 7/3/PBI/2005) adalah paling tinggi 10% dari modal bank.

BMPK terhadap  pihak tidak terkait (Pasal 11 PBI 7/3/PBI/2005 adalah:
a. 1 (satu) peminjam maksimum 20% dari modal bank
b. 1 (satu) kelompok peminjam 25% dari modal bank
2. BMPK BPR
BMPK terhadap pihak terkait (Pasal 5 PBI 11/13/PBI/2009) adalah paling tinggi 10% dari modal bank.

BMPK terhadap  pihak tidak terkait (Pasal 9 PBI 11/13/PBI/2009 adalah:
a. Penempatan dana antar bank kepada BPR lain paling tinggi 20% dari modal bank
b. Kredit ke 1 (satu) peminjam maksimum 20% dari modal bank
c. Kredit ke 1 (satu) kelompok peminjam 30% dari modal bank

Minggu, 13 Februari 2011

PERBANDINGAN PENGHASILAN 6 DIREKSI BUMN

1. PT Aneka Tambang Tbk
Jumlah gaji dan tunjangan lainnya untuk komisaris dan direksi perseroan adalah sekitar Rp27,7 miliar. Jumlah gaji dan tunjangan itu untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2009.

Dengan asumsi sekitar 65 persen dari total gaji dan tunjangan itu atau sekitar Rp18,06 miliar untuk direksi, maka dari enam direksi BUMN itu, masing-masing akan menerima gaji dan tunjangan sekitar Rp3,01 miliar per tahun atau Rp250,8 juta per bulan.

Namun, jumlah gaji dan tunjangan komisaris serta direksi perseroan itu turun dibanding 2008 yang mencapai Rp46,3 miliar.

2. PT Timah Tbk
Berdasarkan data laporan keuangan auditan per 31 Desember 2009, jumlah gaji dan bonus lima direksi Timah sebesar Rp12,7 miliar dengan perincian gaji Rp4,8 miliar dan tantiem Rp7,8 miliar.

Dari data tersebut, masing-masing direksi akan menerima gaji (belum termasuk bonus) minimal Rp962,2 juta per tahun atau sekitar Rp80 juta per bulan. Jumlah gaji dan tantiem direksi tersebut turun dibanding 2008 yang mencapai Rp13,2 miliar. Perinciannya, gaji sebesar Rp4,4 miliar dan bonus Rp8,8 miliar.

3. PT Bukit Asam Tbk Total gaji dan tunjangan direksi serta komisaris perseroan per 31 Desember 2010 mencapai Rp20,5 miliar.

Jika diasumsikan sekitar 65 persen dari total gaji dan tunjangan tersebut, atau sekitar Rp13,3 miliar untuk direksi, masing-masing direktur BUMN tambang yang mencapai enam orang itu akan menerima gaji dan tunjangan minimal Rp2,2 miliar atau Rp185 juta per bulan.

Meski demikian, jumlah gaji dan tunjangan direksi serta komisaris BUMN itu meningkat sekitar 10,2 persen dari sebelumnya Rp18,6 miliar per akhir 2008

4. Bank Mandiri Hasil rapat umum pemegang saham pada 4 Mei 2009 menyetujui penyesuaian gaji Direktur Utama Bank Mandiri menjadi sebesar Rp 166 juta netto per bulan atau mengalami kenaikan sebesar 11,06% dari gaji netto yang berlaku sebelumnya.

Sedangkan, total gaji, tunjangan dan bonus yang diberikan kepada 11 anggota direksi Bank Mandiri berjumlah Rp93,08 miliar per tahun atau setara dengan Rp7 miliar per bulan. Jadi satu orang anggota direksi Bank Mandiri rata-rata mendapatkan Rp705 juta per bulan. Itu belum termasuk fasilitas berupa perumahan, transportasi dan santunan.

Berikut ini perincian penghasilan 11 bos Bank Mandiri selama setahun:
Gaji Rp27,57 miliar, tunjangan yang mencakup THR, cuti, kesehatan dan handphone Rp17,51 miliar, bonus Rp48,0 miliar.

Sedangkan, fasilitas yang diperoleh oleh 11 orang anggota direksi adalah mencakup: Perumahan Rp1 miliar, transportasi Rp3,87 miliar dan santunan (dapat dimiliki) Rp 4,69 miliar. 

5. TELKOM PT Telkom merupakan BUMN yang juga memberikan gaji besar kepada anggota direksinya. Untuk tahun anggaran 2009, berdasarkan laporan keuangan Telkom seorang direktur utama, Rinaldi Firmansyah memperoleh penghasilan Rp7,22 miliar selama setahun atau Rp602 juta per bulan. Penghasilan itu terdiri atas gaji, tunjangan, asuransi dan tunjangan lainnya.

Sedangkan, seorang direktur Telkom rata-rata memperoleh penghasilan sebesar Rp6,53 miliar per tahun atau Rp544 juta per bulan.

6. PLN 

PLN belum menjadi perusahaan publik. Namun demikian, PLN juga merupakan perusahaan negara yang menggaji tinggi kepada direksinya. Ketika Kementerian BUMN dipimpin oleh Sofyan Djalil, pada Mei 2009 lalu, sang menteri membuat keputusan baru untuk menaikan gaji direksi PLN dari semula Rp45 juta menjadi Rp145 juta per bulan.

Pertimbangannya, PLN yang kini dipimpin oleh Dahlan Iskan merupakan BUMN sangat strategis serta mengelola aset dalam jumlah besar, yakni total Rp350 triliun. Dengan demikian, tanggung jawab yang diemban juga sangat besar.

DAFTAR 10 BUMN DENGAN LABA TERBESAR TAHUN 2010

Berikut ini posisi 10 besar BUMN dengan laba BUMN terbesar sepanjang kuartal III 2010:
1. PT Pertamina Rp11,47 triliun
2. PT Telkom Indonesia Tbk Rp8,99 triliun
3. PT Perusahaan Listrik Negara Rp7,42 triliun
4. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Rp6,65 tirliun
5. PT Bank mandiri Tbk Rp6,38 triliun
6. PT Perusahaan Gas Negara Tbk Rp4,69 triliun
7. PT Bank Negara Indonesia Tbk Rp2,95 triliun
8. PT Semen Gresik Tbk Rp1,62 triliun
9. PT Pupuk Sriwijaya Rp1,45 triliun
10. PT Askes Rp1,41 triliun

DAFTAR PSAK,SAK,ISAK,PPSAK YANG TELAH DISESUAIKAN DENGAN IFRS

PSAK, SAK, ISAK,PPSAK
TANGGAL EFEKTIF
2007
 
PSAK 13 (REVISI 2007):Investment Property1 Januari 2008
PSAK 16 (REVISI 2007):Fixed Assets1 Januari 2008
PSAK 30 (REVISI 2007):Leasing1 Januari 2008
2008
 
PSAK 14 (REVISI 2008):Inventory1 Januari 2009
PSAK 26 (REVISI 2008):Borrowing Cost1 Januari 2009
2009
 
SAK Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (ETAP)1 Januari 2011
PSAK 1 (REVISI 2009):Finansial Statements Presentation1 Januari 2011
PSAK 2 (REVISI 2009):Statement of Cash Flows1 Januari 2011
PSAK 4 (REVISI 2009):Consolidated and Separate Financial Statements1 Januari 2011
PSAK 5 (REVISI 2009):Segment Reporting1 Januari 2011
PSAK 12 (REVISI 2009):Participating Share on Joint Venture1 Januari 2011
PSAK 15 (REVISI 2009):Investment on Associated Entity1 Januari 2011
PSAK 25 (REVISI 2009):Accounting Policies, Changes in Accounting Estimate, and Irregularities1 Januari 2011
PSAK 57 (REVISI 2009):Provision, Contingent Liabilities, and Contingent Assets1 Januari 2011
PSAK 58 (REVISI 2009):Non-Cuurent Assets Held for Disposal and Discontinued Operation1 Januari 2011
ISAK 7 (REVISI 2009):Consolidation for Specific Purpose Entity1 Januari 2011
ISAK 9:Changes for Post-Operating Activity Liabilities, Restoration, and Other Similar Liabilities1 Januari 2011
ISAK 10:Customers Loyalty Program1 Januari 2011
ISAK 11:Non Cash Assets Distribution to Owners1 Januari 2011
ISAK 12:Joint Control Entity:Non-Monetary Contributions by VenturersFollow its PSAK
PPSAK 1:Witrawal of PSAK 32:Forestry Accounting, PSAK 35:Accounting for Telecomunication Service Revenues, and PSAK 37:Accounting for Toll Road Entity1 Januari 2011
PPSAK 2:Withdarwal of PSAK 41: Warrant and PSAK 43:Factoring1 Januari 2010
PPSAK 3:Withdrawal of PSAK 54:Troubled Debts Restructuring1 Januari 2010
PPSAK 4:Withdrawal of PSAK 31:Bank Accounting, PSAK 42:Security Entity Accounting, and PSAK 49:Mutual Fund Accounting1 Januari 2010
PPSAK 5:Withdrawal of IFAS 06:Intrepretation of Paragraph 12 and 16 of PSAK 55 (1999):Derivative Instrument Attached to Foreign Currency Contracts1 Januari 2010
2010
 
PSAK 48 (REVISI 2009):Assets Impairment1 Januari 2011
PSAK 19 (REVISI 2010):Intangible Assets1 Januari 2011
PSAK 22 (REVISI 2010):Business Combination1 Januari 2011
PSAK 23 (REVISI 2010):Revenues1 Januari 2011
PSAK 7 (REVISI 2009):Related Parties1 Januari 2011
ISAK 13:Foreign Operation Net Investment Hedging1 Januari 2012
ISAK 14:Intagible Assets-Website Cost1 Januari 2011

Sabtu, 12 Februari 2011

BI RATE NAIK, BAGAIMANA BUNGA KREDIT APAKAH IKUT NAIK?

WAH, akhirnya BI Rate naik tipis 25 basis poin (0,25 persen) menjadi 6,75 persen pada 4 Februari 2011. Bank Indonesia (BI) menanggapi permintaan pasar mengingat inflasi tahunan (year on year/yoy) pada Januari 2011 mencapai 7,02 persen.

Apakah hal ini mendorong bank nasional segera menaikkan bunga kredit? Inflasi terus mendaki melewati target inflasi BI lima persen plus minus satu persen sejak Juni 2010, yakni sekira 5,05 persen menjadi 6,22 persen dan 6,44 persen per Juli dan Agustus 2010.

Inflasi menipis menjadi 5,80 persen dan 5,67 persen per September dan Oktober 2010. Lalu inflasi kembali naik menjadi 6,33 persen, 6,96 persen dan 7,02 persen per November, Desember 2010, dan Januari 2011.

Pro dan kontra mengenai perlunya BI meningkatkan BI Rate terus bermunculan. Pandangan kontra mengatakan, BI Rate tidak perlu naik mengingat inflasi saat ini akibat gejolak harga pangan (volatile food) dan harga yang diatur pemerintah (administered price).

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), dari inflasi 6,96 persen per Desember 2010, sektor bahan makanan menyumbang 3,5 persen, sektor makanan 1,23 persen, serta sektor perumahan air dan listrik 1,01 persen. Harga bahan pangan seperti beras,cabai, dan minyak goreng juga menjadi pemicu utama inflasi akhir 2010. Intinya, inflasi kini disebabkan faktor nonmoneter.

Sebut saja, anomali iklim, gagal panen raya, dan infrastruktur yang kurang memadai sehingga menghambat distribusi bahan pokok. Sebaliknya,pandangan pro menyatakan, BI perlu menanggapi pasar untuk menaikkan BI Rate.

Alasannya, bunga riil (real interest rate), yakni selisih bunga dikurangi laju inflasi tahunan agar tidak jatuh terlalu dalam. Tengok saja, bila bunga deposito tujuh persen, selisih bunga riil bakal negatif (negative spread) setelah dikurangi inflasi 7,02 persen.

Artinya, bunga deposito tertelan habis oleh pajak penghasilan dan inflasi. Oho, deposan bukan untung malah buntung. Alasan makronya, supaya arus dana jangka pendek yang pulang kampung (capital outflow) tidak semakin deras. Kalau hal ini terjadi dikhawatirkan akan mendorong nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah (depresiasi).

Akhirnya, BI memenuhi permintaan pasar. Namun yang harus diingat, makin tinggi BI Rate akan makin tinggi pula biaya moneter. Pada 2009, BI mengeluarkan biaya moneter Rp22,47 triliun sehingga defisit anggaran mencapai Rp1 triliun.

Pada 2010, BI memproyeksikan anggarannya akan defisit hingga Rp22 triliun. Kenaikan defisit ini merupakan konsekuensi dari biaya stabilisasi nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi. Lantas, apakah kenaikan BI Rate tersebut akan mengerek bunga kredit? Belum tentu. Hal ini dilandasi pertimbangan berikut ini.

Pertama, menggenjot dana murah. Kalau BI Rate "hanya" naik 25 bps, bank nasional masih mampu menyangga beban operasional. Minimal ada dua jurus utama yang bisa dimainkan bank nasional. Hal pertama yang harus dilakukan adalah bank nasional terus menggali dan menghimpun dana dari dana murah antara lain dari giro dan tabungan.

Sebagai catatan, bunga deposito dikenal sebagai sumber dana. Meski kemungkinan besar bunga tabungan tidak akan naik, tetapi akan terjadi jor-joran pemberian hadiah.

Hadiah itu bertujuan untuk merangsang calon nasabah makin banyak menabung. Sesuai dengan Peraturan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) No 2/PLPS/2010 tanggal 25 November 2010, LPS melarang bank nasional untuk memberikan hadiah berupa uang tunai (cashback).

Artinya, cashback ini dianggap sebagai bagian dari tingkat bunga. Namun, hadiah dari program penghimpunan dana yang dilakukan bank melalui undian berhadiah yang pelaksanaannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku tidak termasuk sebagai bunga.

Jurus kedua adalah menipiskan tingkat margin. Sebagai pengetahuan, target margin merupakan salah satu pilar terbentuknya bunga kredit. Nah, kalau tingkat margin dipotong sedikit saja, bank nasional masih bisa bernafas lega. Buktinya apa?

Lihat saja, margin bunga bersih (net interest margin/ NIM) masih bertengger tinggi 5,74 persen per November 2010 yang justru naik dari 5,73 persen pada bulan sebelumnya. NIM ini jelas lebih tinggi daripada negara tetangga Singapura, Malaysia, dan Filipina yang mencapai sekira tiga persen.

Selain itu, bank nasional harus mau mendongkrak tingkat efisiensi yang tercermin pada rasio beban operasional berbanding pendapatan operasional (BOPO). Menurut Statistik Perbankan Indonesia (SPI), November 2010 yang terbit 17 Januari 2011, BOPO bank nasional mencapai 85,54 persen membaik dari 86,55 persen per Oktober 2010. Bagaimana kiat menghemat? Salah satu strateginya adalah mengerem promosi besar-besaran. Satu lagi.

Bank nasional bisa menggeber pendapatan nonbunga (fee-based income). Pendapatan gurih ini bersumber antara lain dari remitansi, pembiayaan perdagangan (trade finance) misalnya ekspor, impor, bank garansi, manajemen kas (cash management), manajemen kekayaan (wealth management), pengelolaan rekening, ATM, mobile, internet, dan SMS banking.

Dengan demikian, bank nasional akan tetap mampu menggalang pendapatan nonkredit. Kecenderungan bank nasional untuk lebih memacu fee-based income akan kian meningkat pada 2011 terlebih ketika BI Ratemeningkat walau tipis.

Esensinya, bunga kredit belum segera naik. Namun, sejatinya bank nasional makin tertekan dengan aneka kebijakan BI. Katakanlah, kebijakan giro wajib minimum (GWM) yang mencakup tiga hal.

Pertama, GWM Primer dalam rupiah naik dari lima persen menjadi delapan persen dari dana pihak ketiga (DPK) rupiah per 1 November 2010.

Kedua, GWM Sekunder dalam rupiah tetap 2,5 persen dari DPK rupiah.

Ketiga, GWM-LDR dengan kisaran 78-100 persen efektif 1 Maret 2011. Belum lagi, kenaikan GWM valas yang terbang tinggi dari satu persen menjadi lima persen dari DPK valas per 1 Maret 2011.

Kemudian, GWM valas kian gendut menjadi delapan persen per 1 Juni 2011. Sungguh, ini semua membutuhkan modal besar bagi bank nasional untuk mampu bertahan apalagi meraih target pertumbuhan kredit 22–23 persen.

Kamis, 03 Februari 2011

TIPS KEBERHASILAN DARI 8 MILIUNER TERMUDA

Apa kata 8 Miliuner Muda mengenai keberhasilan yang mereka raih? Siapa tahu bisa Anda jadikan pegangan juga untuk menjalani rencana Anda menjadi wirausahawan:
1. Mark Zuckerberg
Di tahun 2007, ketika berusia 23 tahun, pria ini mengembangkan sebuah sistem yang kini sangat terkenal, Facebook. Dalam sekejap, ia menjadi salah satu miliuner paling kenamaan. Belum lagi namanya makin melambung setelah kisah suksesnya diabadikan dalam film "Social Network". Pria ini memandang bahwa anak-anak muda itu kreatif dan memiliki kecerdasan. Ia punya harapan tinggi terhadap anak-anak muda.
2. Michael Dell
Di usia 19, Dell keluar dari kuliahnya di University of Texas tak lama setelah ia memulai sebuah perusahaan komputer yang menjual langsung kepada konsumen dengan harga yang lebih rendah ketimbang pesaing di ritel. Begitu ia mencapai usia 24 tahun, perusahaan yang dikenal dengan Dell memiliki pemasukan sekitar 258 juta dollar AS.
Nasihat dari pria yang kini berusia 45 tahun itu untuk para wirausahawan, "Anda harus memiliki gairah terhadap usaha Anda. Saya rasa orang-orang yang mencari ide-ide besar di luar sana untuk mendapatkan uang tidak sesukses orang-orang yang mencaritahu apa gairahnya yang terdalam untuk kemudian dibuat menjadi usaha."
3. Catherine Cook
Sekarang Catherine Cook sudah berusia 20 tahun, dan selama 2 tahun terakhir ia sudah menjadi miliuner. Ia, bersama kakaknya, David dan Geoff memulai sebuah situs jejaring sosial yang populer di antara remaja Amerika, namanya myYearbook saat mereka masih duduk di bangku sekolah.
Nasihatnya bagi para pengusaha muda, "Berhentilah berpikir dan mulailah melakukan. Saat masih muda adalah waktu paling tepat untuk memulai usaha, karena belum ada tanggung jawab yang harus didapuk seperti saat seseorang mencapai usia dewasa. Yang paling parah bisa terjadi adalah Anda gagal. Tetapi Anda bisa belajar dari kegagalan dan mengubahnya menjadi keberhasilan di upaya berikutnya."
4. Sean Belnick
Di usia 16, Sean sudah menjadi miliuner dengan cara menjual kursi-kursi kantor lewat online, di situs BizChair.com. Sambil menjalaninya, ia melanjutkan pendidikan di Emory University's Goizueta Business School. Kini ia sudah mencapai usia 23 tahun.
"Tak pernah ada kata memulai terlalu cepat. Ada begitu banyak informasi yang hebat di internet. Lakukan riset dan cari cara untuk mencari tahu apa yang ingin Anda lakukan," saran Sean.
5. Jermaine Griggs
Pria yang kini berusia 27 tahun ini berhasil menjadi miliuner di usia 23 tahun dengan mengejar gairahnya untuk menjadi guru musik. Situsnya, HearAndPlay.com didesain untuk membantu orang belajar memainkan piano, gitar, dan drum tanpa perlu membaca not balok. Lebih dari 2 juta pelajar mengunduh pelajarannya setiap tahun.
Kata-kata yang ia sampaikan buat para pemula, "Mengertilah kekuatan penjualan, jangan hanya mengerti siapa Anda dan ide Anda. Pelajari bisnisnya. Pelajari bagaimana orang-orang sebelum Anda berhasil menjalaninya, cari pula orang-orang yang memiliki mimpi serta aspirasi yang sama dengan Anda."
6. Matt Mickiewicz
Di usia 22, ia berhasil mencapai gelar miliuner lewat 3 situs yang ia ciptakan; SitePoint, 99Designs, dan Flippa.com. Menurut Mickiewicz, internet memberikan para wirausahawan umpan balik yang langsung kepada para pelanggan, membuatnya jadi lebih murah untuk mengetes dan meluncurkan ide. Nasihatnya untuk para pengusaha muda, "Orang yang mengatakan bahwa dibutuhkan modal besar untuk mencetak banyak uang hanyalah orang yang mencari-cari alasan. Ciptakan nilai besar untuk orang lain dengan menyediakan solusi yang belum pernah ada sebelumnya."
7. Juliett Brindak
Di usia 19 tahun, wanita ini sudah mencetak diri menjadi miliuner. Ia mulai menggambar tokoh-tokoh remaja perempuan sejak usia 10 tahun. Kemudian, ia menggunakan karakter-karakter tersebut dalam situsnya, MissO and Friends. Nasihatnya untuk para pemula, "Isi tim Anda dengan orang-orang yang percaya pada ide Anda. Jika ada yang mulai meragukan perusahaan Anda sebaiknya segera disingkirkan."
8. Cameron Johnson
Di usia 9 tahun, ia mulai membuat perusahaan pembuatan kartu ucapan di rumahnya. Di usia 12, ia membantu saudarinya yang membuat koleksi Beanie Baby dan meraih untung sekitar 50 ribu dollar AS. Kini, di usia 25 tahun, ia sudah berhasil meluncurkan lebih dari puluhan situs. Ia bahkan memiliki acara televisi sendiri di BBC, bertajuk, "Beat the Boss".
Nasihatnya untuk yang ingin memulai usaha sendiri, "Mulailah bergerak. Lakukan sesuatu, mulai dari kecil. Semakin kecil modalnya, semakin mudah untuk mendapatkan keuntungan. Ciptakan nilai lebih untuk orang lain, dan Anda akan mendapatkan hasil lebih

Selasa, 01 Februari 2011

40 ORANG TERKAYA DI INDONESIA VERSI FORBES

Forbes kembali membuat daftar 40 orang terkaya di Indonesia 2010/2011. Pemilik grup Djarum, Budi dan Michael Hartono masih berada di posisi puncak dengan nilai kekayaan US$ 11 miliar.
Forbes menuliskan, meskipun dilanda berbagai bencana alam termasuk letusan gunung berapi, sinar kekayaan Indonesia terus bercahaya. Apalagi perekonomian Asia sedang naik-naiknya saat ini dengan indeks saham di Asia yang meningkat 50%.
Tak heran jika nilai kekayaan orang-orang terkaya di Indonesia pun meningkat. Secara total, nilai kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia meningkat tajam dari US$ 21 miliar pada tahun 2008 menjadi US$ 42 miliar. Angka itu juga naik US$ 2 miliar dibandingkan nilai kekayaan terbesar yang dicapai pada tahun 2007.
Dikatakan kekayaan setengah dari 40 orang terkaya di Indonesia meningkat dibandingkan tahun lalu.
Jumlah kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia ini mencapai US$ 71 miliar, meningkat dibandingkan tahun lalu yang sebesar US$ 42 miliar, menembus rekor jumlah kekayaan di Indonesia selama ini.
Hartono bersaudara pemilik usaha rokok Djarum tetep kokoh di posisi nomor 1 orang terkaya di Indonesia dengan nilai kekayaan US$ 11 miliar. Sementara pengusaha Aburizal Bakrie menempati posisi 10 dengan kekayaan US$ 2,1 miliar.
Chief Editorial Advisor Forbes Indonesia Justin Doeble menyatakan, 16 dari 40 konglomerat asal Indonesia, berkiprah dalam bisnis batu bara dan kelapa sawit. Dua komoditas itu ikut mendongkrak pundi-pundi kekayaan mereka. Kekayaan konglomerat lainnya berasal dari bisnis yang sudah digeluti bertahun-tahun sebelumnya, seperti farmasi, rokok, dan lain-lain.
Kakak beradik R. Budi dan Michael Hartono misalnya. Dua konglomerat yang menjadi orang terkaya di Indonesia untuk tahun ini, memiliki gabungan penghasilan sebesar US$ 11 miliar atau setara dengan Rp 100 triliun. Keduanya mendapat pemasukan terbesar dari Bank Central Asia sebagai bank swasta terbesar di Indonesia. Mereka juga pemilik industri rokok kretek Djarum dan merambah bisnis kelapa sawit.
Konglomerat di posisi kedua, Susilo Wonowidjojo dengan kekayaan mencapai US$ 8 miliar atau setara dengan Rp 72 triliun. Susilo dikenal sebagai taipan industri rokok Gudang Garam yang sahamnya meningkat dua kali lipat tahun lalu dan meningkat sepuluh kali lipat dalam dua tahun terakhir.
Pada peringkat ketiga adalah miliarder Eka Tjipta Widjaja. Dengan usia 87 tahun, membuat Eka sebaai orang tertua di dalam daftar. Kekayaan sebesar US$ 6 miliar atau setara dengan Rp 54 triliun didapatkan dari bisnis kelapa sawit Golden Agri Resources.
Tujuh orang menjadi pendatang baru di dalam daftar. Mereka antara lain Sri Prakash Lohia dengan kekayaan US$ 2,65 miliar, pengusaha bisnis poliester di bawah perushaan Indorama Synthetics. Agus Lasmono Sudwikatmono, Wakil Presiden perusahaan batu bara Indika Energy menjadi pendatang baru sekaligus orang kaya termuda. Di umur 39 tahun, Agus telah mengumpulkan kekayaan sebesar US$ 845 juta.
Wanita terkaya adalah Kartini Muljadi. Berada di peringkat 25, Kartini memiliki kekayaan sebesar US$ 840 juta, naik US$ 320 juta dari tahun lalu. Kekayaannya berasal dari industri farmasi yaitu Tempo Scan Pasific yang dijalankan anaknya, Handojo.
Forbes juga melansir empat pengusaha yang jumlah asetnya menurun. Salah satunya adalah Aburizal Bakrie. Di umurnya yang ke-63, kekayaannya menurun dari US$ 2,5 miliar pada tahun lalu menjadi US$ 2,1 pada tahun ini. Namun Ketua Umum Partai Golkar ini masih masuk ke dalam sepuluh besar orang terkaya di Indonesia.
Berikut list atau daftar terbaru 40 orang terkaya versi Forbes yang dirilis paling update :
  1. R. Budi & Michael Hartono US$ 11 miliar
  2. Susilo Wonowidjojo US$ 8 miliar
  3. Eka Tjipta Widjaja US$ 6 miliar
  4. Martua Sitorus US$ 3,2 miliar
  5. Anthoni Salim U$S 3 miliar
  6. Sri Prakash Lohia US$ 2,65 miliar
  7. Low Tuck Kwong US$ 2,6 miliar
  8. Peter Sondakh US$ 2,3 miliar
  9. Putra Sampoerna US$ 2,3 miliar
  10. Aburizal Bakrie US$ 2,1 miliar
  11. Kiki Barki US$ 1,7 miliar
  12. Eddy William Katuari US$ 1,65 miliar
  13. Edwin Soeryadjaya US$ 1,6 miliar
  14. Boenjamin Setiawan US$ 1,5 miliar
  15. Garibaldi Thohir US$ 1,45 miliar
  16. Sukanto Tanoto US$ 1,4 miliar
  17. Theodore Rachmat US$ 1,35 miliar
  18. Chairul Tanjung US$ 1,25 miliar
  19. Murdaya Poo US$ 1,15 miliar
  20. Ciliandra Fangiono US$ 1,1 miliar
  21. Benny Subianto US$ 1,05 miliar
  22. Arifin dan Hilmi Panigoro US$ 985 juta
  23. Sjamsul Nursalim US$ 850 juta
  24. Agus Lasmono Suwikatmono US$ 845 juta
  25. Kartini Muljadi US$ 840 juta
  26. Tahir US$ 805 juta
  27. Sandiaga Uno US$ 795 juta
  28. Mochtar Riady US$ 730 juta
  29. Ciputra US$ 725 juta
  30. Hashim Djojohadikusumo US$ 680 juta
  31. Harjo Sutanto US$ 350 juta
  32. Trihatma Haliman US$ 600 juta
  33. Hary Tanoesudibjo US$ 595 juta
  34. Kusnan dan Rusdi Kirana US$ 580 juta
  35. Wiwoho Baduki Tokronegoro US$ 575 juta
  36. Engki Wibowo dan Jenny Quantero US$ 560 juta
  37. Husain Djojonegoro US$ 545 juta
  38. Eka Tjandranegara US$ 525 juta.
  39. Sutanto Djuhar US$ 490 juta.
  40. Prajogo Pangestu US$ 455 juta.

Senin, 31 Januari 2011

100 ORANG TERKAYA DI DUNIA MENURUT FORBES

Seperti biasanya setiap tahun majalah bisnis Forbes merilis daftar deretan orang paling kaya sedunia. Tahun 2010 inipun Forbes kembali merilis daftar 1000 orang dengan tingkat penghasilan terbesar di dunia, yang 100 diantaranya adalah sebagai berikut:
NoNamaWarga NegaraUsiaPendapatan ($Miliar)Kediaman
1Carlos Slim Helu & familyMexico7053.5Mexico
2William Gates IIIUnited States5453.0United States
3Warren BuffettUnited States7947.0United States
4Mukesh AmbaniIndia5229.0India
5Lakshmi MittalIndia5928.7United Kingdom
6Lawrence EllisonUnited States6528.0United States
7Bernard ArnaultFrance6127.5France
8Eike BatistaBrazil5327.0Brazil
9Amancio OrtegaSpain7425.0Spain
10Karl AlbrechtGermany9023.5Germany
11Ingvar Kamprad & familySweden8323.0Switzerland
12Christy Walton & familyUnited States5522.5United States
13Stefan PerssonSweden6222.4Sweden
14Li Ka-shingHong Kong8121.0Hong Kong
15Jim WaltonUnited States6220.7United States
16Alice WaltonUnited States6020.6United States
17Liliane BettencourtFrance8720.0France
18S. Robson WaltonUnited States6619.8United States
19Prince Alwaleed Bin Talal AlsaudSaudi Arabia5519.4Saudi Arabia
20David Thomson & familyCanada5219.0Canada
21Michael Otto & familyGermany6618.7Germany
22Lee Shau KeeHong Kong8218.5Hong Kong
23Michael BloombergUnited States6818.0United States
24Sergey BrinUnited States3617.5United States
25Charles KochUnited States7417.5United States
26David KochUnited States6917.5United States
27Larry PageUnited States3717.5United States
28Michele Ferrero & familyItaly8317.0Monaco
29Kwok familyHong KongNA17.0Hong Kong
30Azim PremjiIndia6417.0India
31Theo AlbrechtGermany8816.7Germany
32Vladimir LisinRussia5315.8Russia
33Steven BallmerUnited States5414.5United States
34Robert KuokMalaysia8614.5Hong Kong
35George SorosUnited States7914.0United States
36Anil AmbaniIndia5013.7India
37Paul AllenUnited States5713.5United States
38Michael DellUnited States4513.5United States
39Mikhail ProkhorovRussia4413.4Russia
40Birgit Rausing & familySweden8613.0Switzerland
41Shashi & Ravi RuiaIndia6613.0India
42Mikhail FridmanRussia4512.7Russia
43Jeffrey BezosUnited States4612.3United States
44Savitri JindalIndia6012.2India
45Donald BrenUnited States7712.0United States
46Gerald Cavendish Grosvenor & familyUnited Kingdom5812.0United Kingdom
47John PaulsonUnited States5412.0United States
48Abigail JohnsonUnited States4811.5United States
49Jorge Paulo LemannBrazil7011.5Brazil
50Roman AbramovichRussia4311.2Russia
51Susanne KlattenGermany4711.1Germany
52Iris Fontbona & familyChileNA11.0Chile
53Forrest Mars JrUnited States7811.0United States
54Jacqueline MarsUnited States7011.0United States
55John MarsUnited States7311.0United States
56Ronald PerelmanUnited States6711.0United States
57Oleg DeripaskaRussia4210.7Russia
58Vagit AlekperovRussia5910.6Russia
59Leonardo Del VecchioItaly7410.5Italy
60Carl IcahnUnited States7410.5United States
61Vladimir PotaninRussia4910.3Russia
62Philip KnightUnited States7210.2United States
63Ricardo Salinas Pliego & familyMexico5410.1Mexico
64Mohammed Al AmoudiSaudi Arabia6510.0Saudi Arabia
65Ernesto Bertarelli & familySwitzerland4410.0Switzerland
66Anne Cox ChambersUnited States9010.0United States
67George KaiserUnited States6710.0United States
68Hans RausingSweden8410.0United Kingdom
69Joseph SafraBrazil7110.0Brazil
70Alexei MordashovRussia449.9Russia
71Viktor RashnikovRussia619.8Russia
72German Larrea Mota Velasco & familyMexico569.7Mexico
73Sheldon AdelsonUnited States769.3United States
74Silvio Berlusconi & familyItaly739.0Italy
75Dan DuncanUnited States779.0United States
76Kushal Pal SinghIndia789.0India
77Nasser Al-Kharafi & familyKuwait668.7Kuwait
78Francois Pinault & familyFrance738.7France
79Dmitry RybolovlevRussia438.6Russia
80Iskander MakhmudovRussia468.5Russia
81James SimonsUnited States718.5United States
82Alberto Bailleres & familyMexico778.3Mexico
83German KhanRussia488.2Russia
84Eliodoro, Bernardo & Patricia MatteChileNA8.1Chile
85Edward Johnson IIIUnited States798.0United States
86Kumar BirlaIndia427.9India
87Sunil MittalIndia527.8India
88John FredriksenCyprus657.7United Kingdom
89Serge Dassault & familyFrance847.6France
90Petr KellnerCzech Republic457.6Czech Republic
91Ananda KrishnanMalaysia717.6Malaysia
92Tadashi Yanai & familyJapan617.6Japan
93Mohamed Bin Issa Al JaberSaudi Arabia517.5Saudi Arabia
94Len BlavatnikUnited States527.5United Kingdom
95David & Simon ReubenUnited Kingdom677.5United Kingdom
96Nobutada Saji & familyJapan647.5Japan
97Alain & Gerard WertheimerFranceNA7.5NA
98Vladimir YevtushenkovRussia617.5Russia
99August von FinckGermany807.3Switzerland
100Lee Kun-HeeSouth Korea687.2South Korea

TRADING DAN INVESTASI DI PASAR KEUANGAN

  SAATNYA MENGHASILKAN UANG DARI PASAR UANG   http://alpari-forex.org/id/?partner_id=1246641